Monday, April 30, 2018

Tatalaksana Hipersensitivitas

urtikaria pada penderita alergi

1.      Mengurangi paparan antigen (dan iritan)
a.       Lingkungan (renitis alergika=alergi hidung)
Melakukan penghindaran terhadapa agen-agen yang berpotensi menjadi alergen seperti debu ruangan, zat- zat yanrasal dari hewan, dan hasil pertanian. Melakukan pembersihan rumah secara rutin dapat dilakukan guna menghindari menghindari hal-hal tersebut. Pemberishan dapat dilakukan pada lantai, meja, bagian atas lemari, dan tempat-tempat terpencil dan sulit dijangkau dalam ruangan. Menutup barang-barang yang mudah terkena debu dengan kain setelah dibersihkan agar alergen tidak mudah menempel dan sulit untuk dihilangkan walaupun tetap harus dilakukan pemberihan secra rutin. Selin itu, menggunakan filter ruangan atau mengganti ruanganmenjadi rungan tertutup dengan penyejuk ruangan juga dapat menjadi opsi lain.
Apabila sudah diketahui alergen spesifik tubuh maka diperlukan menghindari sumber alergen. Hewan merupakan agen yang membawa banyak penyakit dan menjadi sumber alergen yaitu pada saliva, sekret air, urin serta bulu dan rambut yang mudah menempel pada perabotan rumah atau pakaian. Penggunaan perabotan seperti primadani dari bulu atau rambut hewan dapat juga menjadi sumber alergen sehingga pada beberapa kasus hipersensitivitas dilakukan penggantian perabotan
b.      Makanan
Menghindari beberapa makanan yang sudah diketahui merupakan alergen pada tubuh dapat dihindari dengan tidak mengkonsumsinya. Apabila alergen masih belum diketahui oleh penderita maka disarankan untuk menghindari makanan-makanan yang sering dianggap alergen oleh beberapa orang yang mengalami hipersensitivitas yaitu makanan-makanan berprotein tinggi dan makanan laut seperti udang, kerang, dan ikan.
2.      Pengobatan supresi untuk mengurangi gejala-gejala secara nonspesifik
-          Antihistamin.
Penggunaan antihistamin dilakukan dalam menghambat reseptor H1 sangat berguna bagi  pengobatan simptomatik (yaitu nonspesifik). Sifat dari antihistamin yaitu antikolinergik, antiserotonin, dan/atau penenang menjadikan obat-obatan tersebut mapu bersaing dengan histamin pada reseptor-reseptor jaringan sebagai manfaat darinya. Pemberian efektif dengan oral diberikan beberapa dosis perhari dan dapat dilkukan dalam jangka waktu lama.
Efek samping pemberian obat antihistamin ditemukan jarang dan umunya menyebabkan kantuk, letargi, membrana mukosa kering, dan kadang-kadang nausea, kejang, atau kepala terasa ringan juga disertai gangguan presepsid alam sehingga dilarang menjalankan aktivitas menggunakan mesin ketika dalam pengaruh antihistamin.
-          Amin simpatamometis
Pemberian obat ini biasanya dibarengi dengan pemberian antihistamin yang berguna untuk mengimbagi pengaruh penenang pada agen antihistamin karena terdiri atas eferidin, isoferidin, dan fenilpropanolamin bertindak sebagai dekongestan mukosadan karena sedikit banyak menyebabkan stimulasi psikomotor.
Efek samping dari obat ini yaitu dapat merusak fungsi, mata, jantung, saluran cerna, dan genitourinarus.
3.      Hiposensitisasi khusus untuk mengurangi respon terhadap alergen yang tidak dapat dihindari.
Imunoterapi (hiposensitisasi) dengan memberikan pajanan terhadap alergen spesifik terus-menerus penting untuk dilakukan dalam pengobatan. Dalam melakukan tindakan ini dapat dilakukan tindakan injeksi intrakutan terhadap ekstrak alergen dengan dosis yang terus menerus bertambah untuk jangka waktu yang lama sebgai usaha memodifikasi reaktivitas klinis. Ditemukan bahwa terdapat penghentian pembentukan Ig E spesifik namun nilai RAST tidak berkurang dan tes kulit tetap positif karena Ig E biasanya bertambah pada awal penyuntikan. Adanya IgG dan IgA dapat bersaing dengan IgE untuk melawan alergen sehingga menimbulkan reaksi penghambatan. Selain itu, basofil pasien imunoterapi dosis tinggi melepaskan histamin lebih sedikit. (Price and Wilson, 1992)
pricktest dilakukan sebelum skintest untuk mengetahui alergen

0 comments:

Post a Comment